[08 July 2009]

gw gak bisa ngikutin jalan pikiran loe. gak ngerti deh.

kenapa loe perlu merendahkan sesuatu, seakan2 remeh dan tidak ada artinya. tanpa toleransi.

i once said that “no matter how bad i tried, i just can’t be bad”. but now that might have changed. and i hate myself for that. because i am bad ‘because’ of you. i decided to be bad to you. that made me a loser.

you hurt me. i accept, i lose.
you hurt me. i fight back, i lose.

you hurt me. i explain. you spit out the perfect argument. i banter once or twice. i lose.
you hurt me. i explain, your argument, mine, yours, mine, i might win, but i am drained. i lose.

fucked up.

what’s the meaning of winning and losing?
it’s all in the mind.

no matter what the situation is, you win if you can convince the other person that he has lost. the other way around is true. you lose if you are convinced that you are the loser. haha
so i lost no matter what.

i can so crush you everytime. i can just not tolerate. i can do the things you do. but that’s not me. i won’t allow it.

what’s the point?

 

 

maybe it’s all just a matter of expectation.

Comments

One Response to “[08 July 2009]”

  1. seraphim on August 2nd, 2009 1:49 pm

    ada 4 skenario

    Skenario 1

    Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
    Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong
    tersebut.
    Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk
    menggoyang-goyangka n kaki.
    Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

    Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya
    kepada kita.
    “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,”
    kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

    Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?
    Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

    Skenario 2
    Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
    Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
    Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung
    memberikannya kepada kita.
    Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari
    handphone kita hilang.

    Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone
    kita sambil berkata,
    “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”
    Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

    Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
    Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa
    terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang
    yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).
    Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

    Skenario 3
    Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

    Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita
    menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun
    dari kereta.
    Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap
    ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia
    mengembalikannya kepada kita.

    Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak
    memberikannya kepada kita) menjawab telepon kita.
    “Halo, selamat siang, Pak.
    Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba
    bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan
    handphone itu kembali kepada kita.
    Orang yang menemukan handphone kita berkata,
    “Oh, ini handphone bapak ya.
    Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut.
    Biar bapak ambil di sana nanti ya.”

    Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun
    berikut dan menemui “orang baik” tersebut.
    Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.
    Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

    Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya
    akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua
    bukan?
    Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada
    orang yang menemukan handphone kita tersebut.

    Skenario 4
    Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

    Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun
    dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita
    mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
    Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

    Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
    “Bapak / Ibu yang budiman.
    Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang.
    Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat
    mengembalikan handphone itu kepada saya.
    Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. ”
    SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.
    Kita sudah putus asa.

    Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam
    handphone kita.
    Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.
    Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone
    kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan
    handphone tersebut.

    Bagaimana kira-kira perasaan kita?
    Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang
    diberikan oleh orang itu.
    Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.
    Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

    Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan
    mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih
    berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario
    ketiga).

    Moral of the story
    Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?

    Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan
    ada orang yang menemukannya.

    Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.
    Kita berikan dia ucapan terima kasih.

    Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita
    turun dari kereta.
    Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.

    Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun
    dari kereta.
    Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

    Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah
    itu baru mengembalikannya kepada kita.
    Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

    Ada sebuah hal yang aneh di sini.
    Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling
    baik?
    Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita,
    bukan?
    Dia adalah orang pada skenario pertama.

    Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara
    empat orang di atas.

    Manakah orang yang paling tidak baik?
    Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita
    menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita
    tersebut selama itu.

    Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling
    besar.

    Apa yang sebenarnya terjadi di sini?
    Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus,
    tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan
    banyak, kita berikan lebih sedikit.

    OK, kenapa bisa begitu?

    Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap
    skenario.

    Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum
    sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.

    Pada skenario kedua, kita juga sudah mulai merasakan kehilangan karena saat
    itu kita baru sadar, dan kita sudah membayangkan rasa kehilangan yang
    mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari
    kereta.

    Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama
    kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone
    kita kembali.

    Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.

    Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang
    yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada
    kita.

    Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai
    handphone yang kita miliki.

    Kesimpulan
    Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?

    Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah,
    kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.

    Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman
    kita.
    Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.

    Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah
    hilang tersebut.

    Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat
    bersyukur?

    Sebaiknya tidak.

    Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu
    masih ada.
    Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah
    lenyap dari diri kita.

    Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.
    Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.

    Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.
    Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

    God bless you all.

Leave a Reply